Latihan Khusus Kohati Itu Keharusan Bagi Seluruh HMI-Wati


   
Perempuan adalah tiang negara, artinya tegak runtuhnya suatu negara berada di tangan kaum perempuan. Penerus peradaban lahir dari rahim seorang perempuan, namun pada kenyataannya perjalanan perempuan dalam melahirkan penerus peradaban tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Menjadi bagian terpenting dari roda kehidupan adalah peran dan fungsi kaum perempuan. Di setiap dimensi hidup, tidak ada ruang kosong berkiprah didalamnya. Sebagai pencetak generasi yang unggul, maka harus ada seorang perempuan yang unggul pula. Bahkan dibalik kehebatan seorang lelaki, seorang perempuan yang berposisi sebagai ibu, istri dan anak serta anggota masyarakat yang baik. Hal tersebut terlihat ideal jika kaum perempuan mampu merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
Untuk menjadi perempuan yang unggul, tentunya diperlukan aktualisasi diri yakni proses kesadaran untuk merealisasikan nilai-nilai ideal tersebut. Hal tersebut bukan hal baru lagi, karena sejarah telah mencatat berulang kali kejayaan suatu bangsa berkat peran dan fungsi perempuan yang ideal didalamnya. Namun pada kenyataannya, dalam berbagai dimensi sosial dapat dilihat adanya kesenjangan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan. Akibatnya, kaum perempuan terdistorsi dalam konteks peran dan fungsi sebagai anak, istri, ibu dan anggota masyarakat.
Secara perlahan satu persatu perempuan menanggalkan kemuliaannya. Upaya musuh-musuh Islam dalam menghancurkan negara-negara melalui kaum hawa semakin merebak saja melalui isu gender, hak asasi kebebasan, modernisasi, persamaan hak dan sebagainya, dimana sebagiannya dimanfaatkan untuk kepentingan ghawzul fikri dan bermuara pada pendangkalan akidah muslimah, sehingga pada akhirnya muslimah kehilangan jati dirinya dan sulit menerapkan nilai-nilai keislaman secara komprehensif. Ini tentu cukup berhasil memperlemah umat Islam sendiri.
Kohati sebagai salah satu elemen masyarakat harus memainkan peran strategis dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang dirihoi Allah SWT, sebagai salah satu strategi perjuangan dalam mewujudkan mission HMI, dalam rangka mencapai tujuan tersebut. HMI membentuk Korp HMI-wati (Kohati) yang berpedoman pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga HMI.
Dalam dinamika gerakan perempuan yang dinamis, mari kita berkaca sejauh mana Kohati menjadi aktor didalamnya. Kohati, terlahir dari sebuah reponsitas HMI terhadap kondisi masyarakat dan diciptakan sebagai penghadang lawan ideologis HMI yang terlebih dulu telah menyunting pergerakan perempuan sebagai sebuah kekuatan yang diperhitungkan kemampuannya di dunia politik. Dalam sejarah kelahirannya tersebut, Kohati terkesan sebagai the follower yang menambah daftar organisasi perempuan yang dibentuk sebagai perpanjangan tangan organisasi induknya dalam wacana keperempuanan.
Aplikasi terhadap ranah domestik dan publik harus seimbang karena Kohati sebagai Laboratorium kehidupan dan tempat belajar kader HMI-wati bagaimana dia menjadi anak perempuan yang baik, mempersiapkan calon istri, calon ibu,  hingga disiapkan menjadi anggota masyarakat yang profesional sesuai keahliannya masing-masing.
Kohati Cabang Bangkalan kini hadir dengan kegiatan Latihan Khusus Kohati tingkat nasional dengan tema kegiatan ini adalah “Terbinanya Kader HMI-Wati yang Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai KeIslaman dan KeIndonesiaan Sebagai Akselerasi Tujuan HMI dan Mengaplikasikannya Dalam Ranah Domestik dan Publik”. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana akselerasi peningkatan kapasitas peran kader HMI-wati dalam mengemban misi HMI. Akselerasinya adalah bagaimana peran sebagai Kader HMI-wati dapat termaksimalkan dengan baik sebagai pembina dan pendidik HMI-wati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai keIslaman dan keIdonesiaan. Karena Kohati adalah bagian dari Integral HMI maka sebagai badan khusus yg merespon isu dan dinamika keperempuanan, harus bergerak pada jalur mewujudkan tujuan HMI.


Link download Proposal LKK Tingkat Nasional Cabang Bangkalan Tahun 2018 klik DISINI.

Bangkalan, 29 Oktober 2018


Panitia Pelaksana

Komentar