
Buku yang ditulis oleh Rosemarie
Putnam Tong yang mengantarkan kita pada pemahaman-pemahaman feminisme di dunia,
yang kemudian diterjemahkan Aquarini Priyatna Prabosmoro. Diterbitkan oleh
Jalasutra, Yogyakarta. Yang memuat perihal aliran feminisme, baik dari akar
feminisme tersebut sampai kepada kritik terhadap aliran Feminisme. Berikut
sedikit review terkait buku tersebut:
1. Feminisme Liberal
Bagi kaum liberal klasik, negara
yang ideal harus melindungi kebebasan sipil, misalnya, hak milik, hak memilih,
kebebasan menyampaikan pendapat, kebebasan untuk berbeda, kebebasan untuk
berserikat. Feminisme liberal kontemporer nampaknya lebih cenderung kepada
liberalisme yang berorientasi kepada kesejahteraan. Susan Wendel, menyatakan
bahwa feminisme liberal lebih berkomitmen pada pengaturan ekonomi secara
besar-besaran, dan redistribusi kemakmuran secara lebih signifikan, karena
salah satu dari tujuan politik modern yang paling dekat dengan feminiseme
liberal adalah kesetaraan kesepakatan.
Marry Wollstonecraft, abad ke-18,
menentang bahwa perempuan hanyalah sebagai pemburu dan pemberi kenikmatan pada
laki-laki. Ia sangat tidak menyukai Emile, karya JJ Roesseau, Shopie dalam
karya itu, tidak seharusnya hanya sibuk mengasah keterempalinnya melakukan
pekerjaan-pekerjaan rumah (domestik), dan menjadi seorang istri yang tanggap
dan penuh pengertian. Dalam hal ini, Marry Wollstonecraft menginginkan agar
Shopie, (perempuan) diberikan pendidikan yang setara dengan Emile, sehingga Shopie, menjadi pemikir dan mampu lebih
baik dalam mengurus rumah tangga serta memiliki nalar kritis untuk mengurus
anak-anaknya kelak.
Abad ke-19, Mill, mengikuti gaya
pemikiran Marry, tetapi ia memandang nalar tidak hanya secara moral. Ia dan
Taylor yang juga memiliki pemikiran serupa, meyakini bahwa untuk mencapai
kesetaraan seksual, atau keadilan gender, maka perempuan harus memiliki hak
politik dan kesempatan, serta pendidikan yang sama yang dinikmati laki-laki.
Para penganut Feminisme liberal
menginginkan agar perempuan terbebas dari peran gender yang opresif, yaitu,
dari peran-peran yang digunakan sebagai alasan atau pembenaran untuk memberikan
tempat yang lebih rendah bagi perempuan. Melainkan, perempuan ingin untuk
disamakan dengan laki-laki.
Kritik kemudian bermunculan
dengan berbagai macam dari berbagai pihak, diantaranya seorang teoris politik,
menanyakan, “ Dapatkah perempuan menjadi seperti laki-laki? Apakah perempuan
menginginkannya? Apakah perempuan harus menginginkannya?” kemudian ada lagi
dari Alisson Jaggar, menyatakan bahwa “Perempuan tidak hidup dengan nalar dan
otonomi semata”. “Feminisme liberal sebagai rasis, klasis, dan heteroseksis”
sebab feminisme liberal dinilai hanya akan berlaku pada kaum-kaum kelas
menengah dan juga para penganut dari feminisme jenis ini, heteroseksual.
2. Feminisme Radikal
Feminisme radikal-kultural dan
Radikal Libertarian, aliran feminisme yang memaknai sistem seks atau gender
dengan beberapa pandangan: Sexual Politics (Millet), yang menyatakan bahwa
hubungan sex adalah adalah politis. Karena dalam hal ini, hubungan antara
laki-laki dan perempuan merupakan hubungan kekuasaan; Dialect of Sex
(Firestone), memaknai bahwa dasar material ideologi seksual/politik dari
submisi perempuan.
Feminisme radikal-libertarian dan
feminism radikal-kultural mengklaim, karakter perempuan merupakan akar dari
kebaikan-nya. Serta tidak ingin adanya suatu dominasi dari seorang lelaki,
melainkan subordinasi perempuan.
3. Feminisme Marxis dan Sosialis
Aliran ini diilhami dari
teori-teori yang ditawarkan Marx, baik itu dari konsep atas sifat manusia,
konsep ekonomi, teori kemasyarakatan, politik. Pun juga dari Friedrich Engels
mengenai asal-usul keluarga, kepemilikan pribadi dan Negara. Hal ini mendasari,
bagaiamana kemudian perempuan merasa adanya hubungan klausa dari kapitalisme
dengan Patriarki. Industri yang membuat perempuan-perempuan tidak lagi dianggap
produktif. Bahkan dianggap nonproduktif, sebab laki-laki lebih dianggap mampu
menghasilkan produksi lebih banyak. Inilah yang kemudian membuat perempuan
merasa disepelehkan, dan melakukan pemberontakan dan ingin disetarakan dengan
laki-laki (Comparable Worth).
4. Feminisme Psikoanalisis dan Gender
Freud, yang memiliki teori
seksualitas, menjadi akar feminisme psikoanalisis, ia menekankan kritis
psikoseksual dan menyimpulkan bahwa bagi perempuan, tingkatan yang secara etis
disebut normal, berbeda dari yang disebut normal bagi laki-laki. Bahwa
ternyata, perempuan memiliki lebih sedikit rasa keadilan dibandingkan
laki-laki. Kemudian femisnisme melihat juga bagiamana, fungsi motehering dari seorang perempuan juga
terkait peran ganda.
Feminisme gender, lebih
merefleksikan pentingnya keterpisahan pada kehidupan laki-laki dan pentingnya
keterkaitan pada kehidupan perempuan; berfungsi pula untuk memeberdayakan
laki-laki dan melemahkan perempuan dalam masyarakat patriarkal. Serta tidak mau
memperdulikan antara jenis kelamin, baik male
dan female.
5. Feminisme Eksistensialis
Feminisme eksistensialis, tidak
mau menerima mitos-mitos takdir dan sejarah perempuan, seperti halnya perempuan
sebagai simbol putri duyung yang cantik dan laki-laki sebagi Pelaut. Hal ini
menunjukkan sisi kebinatangan. Maka perempuan mau menafikan hal itu semua.
6. Femisnisme Post-modern
Sebenarnya sangat sulit bagi para
penganut feminisme posmodern ini untuk meninggalkan tatanan simbolik. Jenis
feminisme ini, memiliki agenda berbeda dan kecenderungan lain. Misalnya, penghargaan terhadap kemungkinan yang
tersembunyi dalam ketiadaan, ketidak hadiran dalam suatu marginal.
7. Feminisme Multikultural dan Global
Feminisme jenis ini, memandang
bahwa diri adalah terpecah. Maksudnya adalah, diri cenderung pecah yang
bersifat budaya, rasial, dan etnik, daripada seksual, psikologis, dan global. Sehingga
menentang “esensialisme perempuan”, pandangan bahwa gagasan tentang perempuan
adalah bentuk platonik. Dan menafikan pula “cahuvinisme perempuan”, pandangan
kecenderungan terhadap segelintir perempuan, baik itu secara ras atau kelas.
8. Ekofeminisme
Feminisme ini berusaha
menunjukkan hubungan antara semua bentuk opresi manusia, tetapi juga
memfokuskan pada usaha manusia untuk mendominasi dunia, bukan manusia, atau
alam. Karena perempuan secara kultural dikaitkan dengan alam, ekofeminisme
berpendapat ada hubungan konseptual, simbolik, dan linguistik antara feminis
dan isu ekologi.
Dari
beberapa aliran di atas, lalu aliran feminisme seperti apakah yang dianut oleh
Raden Ajeng Kartini yang ada di Indonesia? Atau bagi perempuan yang sedang
membaca tulisan ini, ada di posisi manakah anda?
*Disda Hendri Yosuki, mahasiswa
Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura.
Komentar
Posting Komentar