Kalimat Tauhid, Stop Mengklaim Sebagai Bendera Ormas

“Ketika Benih-benih Mustafa Kamal Ataturk Bermunculan di Negeri ini”



            Mustama Kamal Ataturk, siapa yang tak kenal dengan namanya? Islam yang sempat menguasai 2/3 dunia, berhasil diruntuhkannya pada 27 Rajab 1342 H bertepatan dengan 3 Maret 1924. 94 tahun atau hampir 1 abad dunia ini tanpa khilafah. Kemarahan umat islam atas tipu muslihatnya tidak mampu menghentikan ambisinya. Yah, tangan-tangan manusia mungkin tak berdaya membendung apa yang telah di lakukannya. Tapi lihatlah, bagaimana skenario terbaik Tuhan dalam mengakhiri hidupnya. Semesta menjadi saksi, bagaimana bumi pun tak sudi menjadi tempat peristirahatannya.
            Baru-baru ini, Islam kembali difitnah yang tentunya  menuai pro dan kontra dari kalangan umat Islam sendiri. Sebelumnya saya mohon maaf untuk tulisan ini, hanya sebuah opini. Anda boleh tidak sepakat, karena saya bukan pemilik kebenaran. Dan Maha Mengetahui Allah atas segala niat sekecil apapun yang terbesit dalam setiap benak hamba-Nya.
            Benih-benih Mustama Kamal Ataturk nampaknya juga tumbuh di negeri ini. Persatuan dan kekuasan Islam memang selalu menjadi momok ketakutan bagi mereka kaum sekuler dan antek-anteknya. Ukhwah islamiyah sebagai jantung kehidupan umat Islam adalah hal yang bagi mereka tidak boleh terjadi. Semua cara dihalalkan untuk mencapai tujuan tersebut. Dan sekali lagi, perpecahan Islam adalah kunci utamanya. Persis dengan sandiwara yang dimainkan oleh Mustama Kamal Ataturk dengan sekutunya kaum sekuler, dia berperan sebagai pahlawan untuk negerinya. Propaganda yang dilakukan oleh barat dengan mengagung-agungkan Mustafa Kamal Ataturk atas apa yang telah dilakukannya, yang nampaknya juga merupakan sebuah rekayasa belaka. Puncaknya adalah dengan memberikan sebuah racun stimulus melalui qasidah (syair arab berisi pujia-pujian dakwah keagamaan) dengan menyebut-nyebut Mustafa Kamal Ataturk  seperti Khalid bin Walid “Maha Besar Allah betapa kemenangan yang penuh dengan keajaiban, Khalid Turki hidupkanlah kembali, Khalid Arab”.  
            Dengan melihat fenomena yang menyayat hati kalangan umat Islam dengan di bakarnya kalimat Tauhid yang disebut-sebut sebagai bendera salah satu ormas. Sedikit flashback, saya rasa klarifikasi yang sudah disampaikan oleh Ustad Felix dalam acara Indonesia Lawyer Club sudah sangat jelas dengan dalil yang shahih, dimana beliau berhadapan langsung dengan salah satu tokoh yang juga tergabung dalam sebuah kelompok yang melakukan pembakaran terhadap bendera tauhid . Seharusnya muslim bisa melihat, bagaimana penjelasan yang tidak ilmiah sama sekali, bahkan ngarang alias ngawur dari salah satu tokoh kelompok  yang selalu mengaung-aungkan cinta NKRI. Namun dalam  realitanya kita bisa melihat, siapa yang bersifat anarkis dan tidak toleran.    
           Alibi-alibi terus bermunculan untuk membenarkan tindakan pembakaran yang telah dilakukan. Misalnya : mobil aparat yang bertuliskan tauhid, apa disalahkan juga, jika dibakar, Al-Qur’an juga boleh dibakar jika dikhawatirkan akan kenak injak dan sebagainya, menolak pki bukan berarti menolak menggunakan palu dan seterusnya Slogan tokoh-tokoh NU yang bisa membenarkan tindakan mereka pun dijadikan kicauan. Parahnya lagi, ayat dilawan dengan ayat, hadist di tangkis  dengan hadist. Tanpa melepas jubah NU kehormatan, KH Hasyim Ashari, kini cukup beliau yang menjadi teladan bagi saya.
            Jargon memperjuangkan Islam dianggap sebagai sebuah agenda politik tertentu. Allah Maha Besar dan dan tidak perlu pembuktian atas kebesaran-Nya. Jika membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al-Qur’an berarti yang kita pertuhankan adalah Al-Qur’annya, bukan Allah. Bahwa pembuktian mempertuhankan Allah  adalah menerima semua makhluk. Itulah statement  pembelaan yang banyak bermunculan di media sosial.
            Hidup di zaman  ini,  manusia dari semua kalangan baik yang muda atau tua,  tidak bisa terlepas dari media sosial.  Tidak dipungkiri, media sosial juga menjadi ladang dakwah yang efektif  bagi ulama negeri ini. Sebut saja Ustad Abdus Somad, Ustad Hanan Ataki, Ustad Felix Siauw, Ustad Salim A Fillah, Ustad Adi Hidayat dan masih banyak lagi. Mereka pun lahir dari tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, HTI yang satu tujuan untuk menegakkan kalimat tauhid. Fenomenal melalui media sosial, mengiring langkah khususnya pemuda untuk belajar Islam dan ikut kajian mereka. Mereka berkarya untuk  negeri, menyebarkan kebaikan melalui dakwah, jamaahnya pun bisa kita lihat tidak bersifat anarkis dan mau menang sendiri. Mereka menjadi guru dan memberikan teladan yang menumbuhkan kecintaan pada tanah air dan agama, dengan tidak memberikan skat pada keduanya.
            Tokoh-tokoh ulama di atas pun sama-sama mendakwahkan bahwa kalimat tauhid yang sempat dibakar bukan bendera ormas HTI. Tapi panji Rasulullah SAW, sekalipun mereka bukan bagian dari HTI, tapi tidak menutup mata dengan kebenaran tersebut. Saya pun yakin, orang-orang yang menyebut bendera tersebut adalah bendera HTI, dengan sadar atau memang tidak tau karena tidak mau tau, juga membenarkan terkait panji Rasulullah yang sekarang di fitnah sebagai bendera HTI.  Permasalahannya adalah kebencian kepada HTI yang boleh saya katakan adalah pelopor viralnya panji Rasulullah Ar-Rayah dan Al-Liwa  di Indonesia.
            JASMERAH. Jangan sekali-kali melupakan sejarah kata Bung Karno. Semoga Mustafa Kemal Ataturk dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi umat Islam dan pendustanya. Yang tidak sadar semoga segera sadar. Jika dulu Musta Kamal Ataturk menyerang Islam secara terbuka dengan terang-terangan dan tertutup, misalnya dengan kebijakannya melarang kalender islam hijriah, agama islam dibuang sebagai agama resmi negara, menyuruh wanita dan pria menari di depan umum, melarang wanita menggunakan jilbab, mengarahkan Al-Qur’an di cetak dengan bahasa Turki, mengubah azan ke dalam bahasa Turki, semua hal yang terdapat unsur arab di hapuskannya.
            Tidak jauh berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang juga terjadi di negeri ini.  Negeri yang sangat toleran. Kita ingat bahwa sebeneranya sila pertama pancasila sebelum disepakati adanya perubahan yaitu berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa dengan  Menjalankan Syari’at Islam”. Termsuk juga sempat heboh azan yang dilarang di mikrofon, maraknya LGBT yang diperjuangakan untuk dibolehkan di Indonesia, pembelaan terhadap penista ayat suci Al-Qur’an yang juga dari kalangan muslim sendiri, pemimpin boleh tidak beragama islam dengan meyuarakan tolerasi antar umat beragama, fitnah terhadap ulama, pembubaran ceramah yang dialami beberapa ustad yang saya sebutkan diatas, beberapa ulama pemuka negeri yang hadir dalam acara dangdutan, dan yang terakhir adalah pembakaran bendera tauhid yang tidak diakui sebagai bendera Rasulullah namun diklaim sebagai bendera HTI.
            Mari kita lebih telaah lagi siapa yang bersifat anarkis, intoleran dan merasa pahlawan. Mari kita telusuri lagi ulama yang bisa memberikan contoh yang baik dan tidak baik. Jika ada tokoh ulama pemeimpin negeri ini   datang ke acara dangdutan, tertawa dan bertepuk tangan gembira dengan goyangan para biduan, maka jangan salahkan jamaahnya termasuk santrinya   juga turut menikmati dan mengganggap itu bagian budaya Indonesia yang perlu di lestarikan. 
            Selalu ada hikmah dibalik semua yang telah menimpa umat Islam di Indonesia. Fitnah yang terjadi, diskrimanasi kepada salah satu ormas, nyatanya memberikan hikmah persatuan yang luar biasa. Aksi 212, reuni 212 dan kita tunggu aksi-aksi persatuan umat Islam selanjutnya. Aksi Bela Kalimat Tauhid dari beberapa pondok pesantren dan majelis taklim di Tasikmalaya Jawa Barat. Aksi santri se provinsi Banten  dan juga aksi yang dilakukan di Yogyakarta. Aksi yang selalu menggetarkan jiwa umat Islam, ketika takbir serentak dikumandangkan. Mereka bersatu meskipun disebut aksi intoleran aksi perayaan intoleraksi parahnya juga disebut radikal.  Namun nyatanya  tidak mampu  mematahkan semangat untuk menegakkan kalimat tauhid yang saat ini  dianggap asing.
“Islam datang dalam keadaan asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing “HR. Muslim”
            Selama kita masih menatap langit dan menginjak bumi yang sama. Maka selama itu pula, persatuan umat Islam akan selalu hidup. Tegakkan kalimat tauhid, bersama kita membangun NKRI. Mari berbenah atau negeri ini akan punah.

Wida Al-Fathur

Komentar