APLIKASI GOBLOK


“Generasi Berprestasi Bukan Penebar Sensasi”
_Wida Al Fathur_



Negeri ini kembali diramaikan dengan pro dan kontra terkait pemblokiran aplikasi Tik Tok. Sebuah aplikasi urutan pertama yang akan muncul di pencarian Google Play ketika kita mengetik aplikasi goblok. Meskipun berlabel demikian, anehnya aplikasi ini tetap sangat digandrungi oleh berbagai kalangan dari anak kecil sampai dewasa. Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) resmi memblokir aplikasi Tik Tok, Selasa 3 Juli 2018. Semuel Pangerapan selaku Dirjen Aptika Kominfo menyampaikan bahwa Kominfo melakukan pemblokiran didasari hasil pemantauan tim AIS Kominfo, pelaporan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta masyarakat luas. Namun Samuel juga menambahkan, pemblokiran bersifat sementara sampai ada perbaikan dan pembersihan konten-konten ilegal dari pihak Tik Tok.
            Adanya pro dan kontra, dapat menjadi sebuah pembelajaran khususnya pemerintah. Dimana seharusnya pemerintah lebih jeli lagi dalam memeriksa setiap konten, layak atau tidaknya konten tersebut diluncurkan di Indonesia. Pada kenyataannya aplikasi yang sesungguhnya “menyesatkan” ini cukup memberikan keuntungan yang besar bagi pemodal. Hal itu terus terang disampaikan oleh Vivienne Gong selaku Head of Global Operation and Marketing Tik Tok bahwa Indonesia memiliki populasi pengguna internet terbesar ke enam di dunia, sehingga  peluang tersebut dia manfaatkan.
Berbanding terbalik dengan Cina sebagai produsen yang merasa diuntungkan. Saya rasa hal ini menjadi mimpi buruk bagi masa depan negeri ini. Dimana mayoritas generasi mudannya sebagai konsumen justru mengaplikasikannya dengan hal-hal yang tidak berfaedah sama sekali. Bagaimana tidak? sudah kita temui fenomena, bahkan yang berkerudung pun bermain tik tok dan asik berjoget manja. Disampaikan oleh  Munawwir Maulidin bahwa Tik Tok is a Dajjal Weapon dimana pemainnya berkontribusi menghancurkakn ummat demi meningkatkan popularitas. Selain itu, Semuel Pangerapan menambahkan bahwa pelanggaran konten yang ditemukan antara lain yakni pornografi, asusila, pelecehan agama dan lain-lain.
Dikaitkan dengan konsep revolusi  mental yang dicita-citakan  Presiden Joko Widodo, mengembangkan nilai-nilai bersifat “startegis-instrumental”. Dimana interpretasi yang diharapakan adalah mengembangkan  dan mengangkat kualitas serta daya saing bangsa secara keseluruhan. Akan tetapi, jika generasi penerus  negeri ini dibiarkan dengan penyimpangan-penyimpangan tersebut, maka revolusi mental hanyalah utopia belaka. Maka perlu kiranya pertimbangan yang matang untuk pemerintah mengambil sikap atas pemblokiran tik tok bersifat sementara atau bahkan tidak sama sekali. Meskipun tidak dapat dipungkiri, pengguna tik tok ada yang masih menggunakannya dalam tahap kewajaran “sehat”.
Bagi saya, tidak hanya pemerintah yang memiliki andil besar dalam menstabilkan dan mewujudkan perubahan baik bagi masa depan negeri ini. Pendidikan sebagai ikhtiar pembudayaan dengan tujuan memanusiakan manusia, juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab persoalan tersebut. Berbicara pendidikan maka tidak akan lepas dari peran seorang guru. Bagaimana guru mampu untuk mewujudkan pendidikan karakter. Itulah mengapa guru merupakan investasi sekaligus aset penting untuk negeri ini, karena guru yang berkarakter akan mengahasilkan anak bangsa yang berkarakter pula. Sehingga anak dapat dengan bijak dan positif dalam menyikapi suatu hal, contohnya membuminya aplikasi tik tok. Apalagi negeri ini juga diprediksi tentang potensi bonus demografi yang tentunya harus dipersiapkan dengan matang, supaya tidak hanya sebatas angan. Pengawasan dan pendidikan orang tua dalam perkembangan anak juga sangat penting. Sehingga perlu adanya kebijakan pemerintah dalam menentukan sistem pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga pentingnya interaksi antara orang tua dan guru pada perkembangan anak. Jika ketiganya berkolaborasi dengan baik, maka masa depan cemerlang untuk negeri ini tidak mustahil diwujudkan. Indonesia butuh generasi berpretasi, berkarakter bukan sekedar penebar sensasi. Berubahlah, mari berbenah atau negeri ini akan punah.
Al-Masduqie, 4 juli 2018
23:31


Komentar