Apa Kabar Negeriku?
_Wida Al Fathur_
Hari ini
tepat pada tanggal 20 Mei 2018, hampir setiap instansi pemerintah dan beberapa
lembaga memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Upacara bendera dilaksanakan
dan berbagai macam acara yang tak kalah meriah. Mahasiswa dan kalangan pelajar
dari tingkat SD sampai SMA juga turut meramaikan status media sosial mereka
dengan berbagai bentuk ucapan sebagai
wujud kepedulian mereka pada bangkitanya nasionalisme di Indonesia.
Pertanyaannya,
dalam sejarah ada peristiwa apa di negeri ini? Hingga 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan
Nasional. Hidup di era yang serba digital, jika pertayaan ini muncul mungkin
pertama kali yang akan dilakukan adalah
dengan mencari informasi tersebut di internet atau lebih akrabnya dikenal
dengan sebutan “mbah google”.
Lantas
deretan jawaban yang saya temukan adalah “Lahirnya Boedi Utomo pada 20 Mei
1908. Sebuah peristiwa yang dianggap sebagai titik balik pertama gerakan
nasionalisme terhadap kolonialisme Belanda”. Ini sebuah jawaban sejarah yang
saya coba tanyakan ke beberapa teman dan kakak tingkat. Pelajaran sejarah yang
saya dapatkan di bangku sekolah dasar sampai menengah atas, namun tidak sampai
hari ini ketika saya menyandang status menjadi mahasiswa.
National Congres Central Sjarikat Islam juga mempelopori
menuntut Indonesia merdeka, atau pemerintah sendiri-Zelf bestuur, 1916 M. Namun
dalam sejarah Indonesia, dituliskan pelopornya Bung Karno di depan pengadilan
Kolonial di Bandung pada 1929 M, atau Petisi Soetarjdo yang menuntut Indonesia
merdeka. Anehnya, tanggal jadi Boedi Oetomo, diperingati sebagai Hari
Kebangkitan Nasional. Padahal sampai
kongres Boedi Oetomo di Solo, 1928 M, menurut Mr. A.K. Pringgodigdo dalam
Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Boedi Oetomo tetap menolak pelaksaan
cita-cita persatuan Indonesia. Walaupun sampai dengan Kongres tersebut, Boedi
Uetomo sudah berusia 20 tahun., tetap mempertahankan Jawanisme. Selanjutnya, Dr. Soetomo membubarkan sendiri
Boedi Oetomo, 1931 M karena tidak sejalan dengan dengan tuntutan zamannya.
Ajaran Kejdawen atau Djawanisme sebagai landasan wawasan Boedi Oetomo sangat
bertentangan dengan ajaran Islam yang
dianut mayoritas pribumi. Melalui medianya Djawi Hisworo, Boedi Utomo berani
menghina Rasulullah.
Walaupun Boedi Utomo dengan media cetaknya menghina
Rasulullah Saw. Sampai sekaramg umat Islam sebagai mayoritas bangsa Indonesia,
tetap menaati keputusan Kabinet Hatta, 1948 M. Bersedia menghormati 20 Mei
sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Demikian pula kelanjutannya Boedi Oetomo
menjadi Partai Indonesia Raja, dipimpin pula oleh Dr. Soetomo. Dengan medianya,
Madjalah Bangoenan, tidak beda dengan Djawi Hisworo, juga menerbitkan artikel
yang menghina Rasulullah Saw. Selain itu, Partai Indonesia Raja-Parindra,
sebagai partai sekuler dan anti Islam. Perlu kiranya para ulama dan MUI
mempertimbangkan kembali keputusan kabinet Hatta, 1948 M, tentang 20 Mei
Sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Kabinet
Hatta merasa perlu membangkitkan kembali sejarah nasional melawan penjajah.
Tapi lantas mengapa Boedi Utomo yang telah mati justru kelahirannya dijadikan
sebagai bentuk untuk membangkitkan kembali kesadaran melawan penjajah.
Sedangkann saat itu Boedi Utomo dipimpin oleh boepati yang merupakan tangan kanan
pemerintahan Belanda “Indirect Rule
System”. Dapatkah boepati dikatakan berpihak kepada gerakan kebangkitan nasional yang berjuang
untuk mengakhiri penjajahan, sedangkan boepati sangat bersikap loyal terhadap
pemerintahan belanda.
Kebijakan
politik pemerintahan RI tersebut berdampak pada dasar pemahaman dan pemikiran
sejarah kebangkitan nasional Indonesia
pada abad ke 20 M, yang seakan tidak lagi dipelopori oleh Islam.
Keputusan-keputusan dalam pengambilan hari bersejarah, hari ini yang
diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, bukan Syarikat Dagang Islam yang
lebih dulu yakni 16 Oktober 1905, Persyarikatan Muhammadiyah 18 November 1912,
atau Nahdatul Ulama 31 Januari 1926 yang sampai saat ini berperan aktif dalam
pembangunan bangsa.
Menjadi tidak masuk akal ketika saya mengurai kembali
sejarah dengan ketetapan kabinet Hatta, 1948. Dalam buku Api Sejarah Mahakarya
Perjuangan Ulama dan Santri Dalam Meneggakkan NKRI yang ditulis oleh Prof. Ahmad Mansur Suryanegara. Seolah memang
disengaja, sejarah nilai-nilai perjuangan nafas Islam di NKRI ditekan
sedemikian rupa. Tentunya untuk menghilangkan perjuangan para ulama terdahulu
untuk generasi bangsa ini, menghapuskan jejak dari siapa dan dalam bentuk apa
perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia ini ditegakkan.
Pendidikan
memiliki peran penting dalam menanamkan dan mengulas sejarah kebangsaan. Namun
sayangnya, pendidikan sejarah di Indonesia tak banyak menjelaskan jika itu
banyak melibatkan peran penting
ulama-ulama Islam. Misalnya dalam peristiwa proklamasi Indonesia, dalam
buku sejarah yang saya dapatkan dari sekolah,
hanya dituliskan bahwa Proklamasi dilaksanakan di Jalan Pegangsaan Timur
No 56. Sebuah rumah yang tidak dikonkritkan kembali, siapa pemilik rumah itu.
Mungkinkah karena rumah tersebut adalah milik orang Indonesia yang berketurunan
Yaman? Apakah karena beliau seorang muslim? Iya beliau bernama Syaikh Marajh
Bin Martha. Pengusaha sukses yang mewakafkan rumahnya untuk pembacaan
proklamasi kemerdakaan bangsa Indonesia.
Banyak
perjuangan ulama Islam untuk negeri ini yang akhirnya saya temukan, namun
nyatanya bangsa ini belum benar-benar merdeka. Sejarah masih dimonopoli oleh
orang-orang yang tak ingin bangsa ini mengenal siapa jati dirinya. Sebuah upaya
deislamisasi sejarah Indonesia. Dampaknya adalah hari ini. Jika kita lihat
sebuah kesalahan fatal yang dilakukan oleh saudara muslim kepada saudara kita
umat kristiani, terkait kasum bom yang ramai diperbincangkan kemarin begitu
cepat dan seolah seluruh dunia ini perlu tahu. Namun pernahkah diulas bagaimana
sejarah kristenisasi masuk ke Indonesia. Apa bedanya penjajahan dengan
terorisme? Bukankah sama-sama menyimpang dari sikap kemanusiaan. Tegasnya,
tidak ada agama manapun yang membenarkan pembunuhan. Bahkan R.A Kartini juga menentang politik kristenisasi karena
dianggapnya merendahkan derajat bangsa
karena para gerejawannya banyak memihak kepada politik imperialisme dan
kapitalisme.
Catatan
harian ini bukan serta merta, ketidakpedulian saya terhadap saudara umat
kristen. Hanya saja agar tidak sangat jomplang bahwasanya hal seperti itu tidak
hanya dilakukan oleh umat Islam yang sering disudutkan. Dianggap semuanya sama.
Bahkan setelah kejadian tersebut banyak “perempuan-perempuan bercadar” yang
akhirnya harus mengalami diskriminasi, ketakutan yang bahkan
oleh saudara-saudara muslim disekitarnya. Menjadikan saya teringat kalimat yang
pernah terlontar dari Ustad Felix Siau yakni “miris ketika melihat saudara
muslim. Toleransinya over sama yang non muslim, tapi nyolotnya minta ampun sama
yang seiman”.Apapun beda agama kita, kita adalah manusia yang berpijak pada
bumi yang sama, menatap langit yang sama dan
menghirup udara yang sama. Maka benarlah saudaraku, Islam itu indah, rahmatan lil alamin.
Al-Masduqie,
20 Mei 2017
22:45 PM

Komentar
Posting Komentar