Puisi: “Sang Kematian Tertawa Merapatkan Barisan Kejauhan Ditengah Malam“



Wahai tuan
Telah berusaha ku berdiri didiatas kedua kaki dan mulai kulangkahkan kaki ke mana tuan meridoi,
Jari jemari menari mengikuti keinginan hati,
Mencoba mendengar bisikan hati dengan nikamat kedua telinga tuk mencari makna dari sebuah konspirasi,
Kau beri ku kedua mata tuk memahami konspirai itu bersama hati dan pikiran ini
Wahai tuan
Langkah ku sia-sia tanpamu
Jemari ini percuma tanpamu
Telinga ini kan hampa tanpa kendali mu
Pandangan ini buram tanpamu
Wahai tuan
Malam sudah menceritakan kelam
Apa yang harus ku lakuakan tuan?
Hanya rasa penyesalan, kegelisahan
Dalam semua yang kulakuakan
Malam telah menceritakan
Wahai tuan
Cahaya mu yang kunantikan tuk menerangi pandangan yang kelam
Cahaya mu ku nantikan tuk membangun keyakinan
Wahai tuan
Dengan malam ku memahami arti kelam
Bersama langit ku melihat gemerlap bintang
Bersama sunyi ku meresapi imajinasi berharap hal yang pasti
Mencoba ku manifestasikan agar maut tak mentertawakan.

Penghujung malam, 10 April 2018

Komentar