Menilik Kembali Terjemahan Hadist Masyhur


Karya : FR

Kita pastinya sudah sering mendengar dengan hadist berikut;

مَن صَامَ رَمَضَانَ اِيمَاناً وَاحتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ 


Dalam versi bahasa Indonesia hadist tersebut diterjemahkan sebagai berikut:
"Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka Allah mengampuni dosanya yang sudah lewat"

Itu versi bahasa indonesia yang seringkali saya dengar dari penceramah pada waktu memasuki bulan Ramadhan, juga saya temukan arti yang demikian di artikel blog.

Dalam bahasa Arab ada kaidah-kaidah yang harus dipatuhi dalam menyusun kalimat. Ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah tersebut disebut Nahwu. Di dalam Nahwu itu sendiri terdapat Shorrof ilmu yang mempelajari asal usul kata dan pengembangannya.


Mari kita melirik pada kata احتِسَاباً yang pada kutipan hadist di atas diterjemahkan menjadi mengharap pahala


Kata  احتِسَاباً sebenarnya berasal dari kata حَسِبَ yang artinya menghitung. Di dalam kalimat lain kata  حَسِبَ juga berkembang menjadi لاَ يَحتَسِب dalam ayat seribu dinar yang artinya tidak disangka-sangka (tidak diperhitungkan sebelumnya). Kata لاَ dalam kata tersebut yaitu la nafi yg bermakna tidak. Artinya, kata يَحتَسِب berhubungan dengan kata hitung dalam bahasa Indonesia.

Kata احتِسَاباً tergolong wazan إفتِعَالَ dengan fi'il madhi احتَسَبَ wazan اِفتَعَلَ. Menurut kitab "Amtsilatut Tashrif" karya Syaikh Muhammad Maksum pada wazan اِفتَعَلَ memiliki beberapa fungsi arti di dalam suatu kalimat, salah satunya yaitu لِزِيَادَةِ المُبَالَغَة bermakna lebih atau sungguh-sungguh.  

Jadi menurut kaidah shorrof kata احتِسَاباً diartikan menjadi menghitung-hitung atau menghitung dengan sungguh-sungguh. Maka arti dari hadist di atas akan menjadi seperti ini, "barangsiapa yang berpuasa karena iman dan menghitung-hitung akan diampuni dosanya oleh Allah". Artinya menghitung-hitung di sini lebih kepada instrospeksi diri (مُحَاسَبَة yg asal katanya juga حَسِبَ). Menghitung keburukan dan kebaikan yang sudah kita lakukan disertai niat untuk memperbaikinya. Karena logisnya adalah Allah akan mengampuni orang-orang yang bertaubat (QS. An-Nisa 146, At-Taubah 104).  Jadi mengharap pahala saja tidak cukup tanpa disertai instrospeksi dan keinginan yg kuat untuk memperbaiki diri serta tidak mengulangi kesalahan yg sama. Dengan begitu Insyaallah Allah menerima taubat dan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lewat. Amin


Di bulan Ramadhan ini semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT. Amin

Komentar